
Ketua PD Jawa Tengah, Ulul Aufa, paham betul hal tersebut. Ketika bencana Merapi menghentak tanah Jawa, dia dituntut untuk memiliki ketenangan dan kematangan berpikir, khususnya saat bertindak.
Di tengah kekacauan yang terjadi, Ulul selalu memberikan instruksi pada rekan-rekannya untuk tetap waspada, tidak bertindak tanpa perintah, dan ketika situasi kondusif menyempatkan diri untuk mengevaluasi pekerjaan yang telah dijalankan bersama. Segala tindakan dilakukan tanpa gegabah, terkoordinasi, sambil menjunjung budaya setempat. “PD Jateng tetap lebih dahulu berkoordinasi dengan berbagai pihak yang terlibat di Magelang. Kami datang ke pemerintah Magelang dengan cara baik- baik, kulonuwun. Dan yang jelas, saya selalu memberikan masukan agar hati-hati dalam bertindak dan keselamatan diri harus selalu diutamakan,” jelasnya.
Ulul telah menjadi contoh bahwa ketenangan dan kematangan berpikir adalah dua hal yang penting dalam kepemimpinan. Komitmennya terhadap TIDAR pun terlihat melalui usaha- usaha PD Jateng merangkul para pemuda
di daerah mereka. “Masih banyak komunitas pemuda di Jateng yang sampai kini belum terangkul. Banyak pula OKP yang tidak menjalankan jiwa kewirausahaan secara komprehensif.” Ulul melihatnya sebagai kesempatan baik untuk TIDAR Jateng. Itu sebabnya di masa mendatang salah satu program yang akan diadakan oleh PD Jateng adalah pelatihan-pelatihan kepada semua PC di Jawa Tengah berkaitan dengan kepemimpinan dan kewirausahaan. “Dalam tahun ini kami memiliki target semua PC sudah terbentuk dan sudah diberikan SK. Kami juga menginginkan semua PC memiliki sebuah gagasan berwirausaha, agar TIDAR bisa menjadi organisasi yang mandiri secara finansial. Baik tingkat PC maupun PD.”
Hal terakhir dan terpenting yang menurut Ulul harus dimiliki oleh setiap pemimpin PD adalah memahami gaya kepemimpinan seperti apa yang dibutuhkan para pemuda di daerahnya. Menurutnya, di Jawa Tengah, jiwa leadership dan kewirausahaan harus dimunculkan sejak dini agar dapat berjalan dengan selaras dan seimbang. “Jadi, jangan memaksakan pemuda-pemudi untuk berpolitik praktis kalau mereka belum menginginkannya.”




