Semua orang pasti setuju dengan pernyataan bahwa pendidikan amat penting bagi kemajuan sebuah bangsa. Pendidikan merupakan hal mendasar yang penting untuk membangun dan menciptakan sumber daya manusia dalam mendukung pembangunan bangsa.
Pendidikan yang baik sebaiknya sesuai dengan arah pembangunan negara. Kurikulum harus bisa menciptakan sumber daya manusia yang dibutuhkan untuk mendukung pembangunan sektor-sektor yang ada. Beberapa permasalahan yang terjadi belakangan ini merupakan akibat dari tidak terarahnya pembangunan negara serta sektor pendidikan yang mendukungnya. Jika ditarik ke akarnya, solusi untuk hampir semua permasalahan yang terjadi di negeri ini adalah perbaikan pada bidang pendidikan.
Kasus kecurangan UN yang sempat menjadi pembicaraan sengit beberapa waktu lalu sedikit banyak mengingatkan kita akan pentingnya pendidikan yang hakiki, yaitu pendidikan moral. Memang, tombak awal berasal dari keluarga, namun tetaplah penting untuk mengadakan pendidikan moral dalam pendidikan formal seperti sekolah. Di sinilah siswa berinteraksi secara sosial dalam menerapkan moral yang dimiliki. Di mana saja, pendidikan moral ini ada dan diutamakan.
Jika boleh berbagi, saya dahulu sempat menjalani pendidikan setingkat SMP di Amerika Serikat. Di sana, setiap beberapa bulan sekali mereka mengadakan sesi diskusi mengenai moralitas. Cara pengajarannya lebih melalui figur yang cocok dijadikan panutan. Seperti misalnya guru atau kepala sekolah.
Di Indonesia, kita memiliki Pancasila yang memuat ajaran-ajaran moral yang sesuai dengan kepribadian bangsa, dengan bentuk masyarakat kita, dan patut kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. TIDAR melihat pentingnya materi moralitas diajarkan ke generasi muda sejak dini dan sangat mendukung kembalinya mata pelajaran Pancasila ke dalam kurikulum nasional.
Selain pendidikan moralitas, TIDAR juga melihat bahwa pendidikan ekstrakurikuler sangat penting. Melalui ekstrakurikuler, sejak dini, generasi muda Indonesia bisa belajar caranya bekerjasama dalam tim, belajar tentang sportivitas, cara bergaul, bersosialisai, dan lain-lain. Hanya dibutuhkan minimal satu ekstrakurikuler di sekolah. Basket, catur ataupun pramuka, semua itu pendidikan.
Terdapat perbedaan yang jelas antara seseorang yang aktif mengikuti ekstrakurikuler, dengan yang tidak. Mereka yang terlibat lebih aktif, luwes dalam berbicara, terbiasa bergerak dalam sebuah organisasi, bisa bekerja dalam kelompok dengan lebih baik, dan lain-lain. Dengan dua hal sederhana di atas, bangsa ini akan memiliki banyak orang pintar yang bisa memimpin, dan juga bermoral.
Banyak program TIDAR yang mendukung pendidikan, seperti program beasiswa Sekolah Untuk Semua, program Buku Untuk Semua, pengadaan Mobil Pustaka Keliling, pendidikan kewirausahaan untuk anak muda di Jawa Tengah, juga seminar antinarkoba dan kenakalan remaja di Lampung. Dalam masa mendatang, program yang akan dijalankan akan difokuskan untuk melatih kepemimpinan dan kemampuan berkomunikasi kepada masyarakat.
Sikap TIDAR dalam mendukung kemajuan pendidikan di Indonesia harus selalu kita ingat. Bukan untuk mengambil alih peran negara. Tetapi, sebagai unsur masyarakat, TIDAR memiliki peran besar untuk melengkapi dan membantu peningkatan pendidikan.
Oleh Sabam Rajagukguk, Sekretaris Jendral PP TIDAR




